Renovasi 100 000 Sekolah menjadi salah satu perhatian utama dalam pembahasan ini. JPPI memperingatkan bahwa proyek renovasi 100.000 sekolah yang dicanangkan oleh Prabowo berpotensi menimbulkan masalah serius bila pelaksanaannya tidak disertai keterbukaan. Organisasi itu menyorot risiko salah sasaran dan penyalahgunaan anggaran jika data, peruntukan dana, dan mekanisme pengawasan tidak dibuka untuk publik.

Peringatan ini menekankan pentingnya transparansi sejak tahap perencanaan hingga pelaporan akhir. Tanpa akses yang jelas terhadap informasi dasar, alokasi anggaran, dan hasil pengawasan, proyek berskala besar seperti ini dianggap rentan terhadap kebocoran dan praktik koruptif yang sulit diawasi.
Renovasi 100 000 Sekolah dalam Sorotan
Skala proyek menjadi faktor utama yang meningkatkan kerentanan. Ketika program menyasar puluhan ribu sekolah, kompleksitas logistik, kontrak, dan distribusi dana meningkat signifikan. JPPI mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat membuka peluang salah sasaran — misalnya bantuan yang tidak tepat kepada sekolah yang tidak memenuhi kriteria prioritas — serta peluang penyimpangan penggunaan anggaran.
Risiko lain yang disebut adalah berkurangnya akuntabilitas ketika data penerima, rincian anggaran, dan proses seleksi tidak dipublikasikan. Tanpa standar keterbukaan yang konsisten, masyarakat, pemangku kepentingan lokal, dan lembaga pengawas punya keterbatasan untuk mengidentifikasi dan menuntut perbaikan apabila terjadi penyimpangan.
Faktor yang membuat proyek rentan
Menurut JPPI, beberapa elemen kerap menjadi celah dalam program besar: ketidakjelasan basis data penerima, mekanisme pengadaan yang tidak transparan, hingga lemahnya pemantauan independen. Ketiadaan satu atau lebih elemen ini dapat memperbesar peluang terjadinya penyalahgunaan sumber daya, baik di tingkat pusat maupun di lapangan.
Proyek yang dikelola secara terpusat namun diimplementasikan di banyak daerah menuntut koordinasi data yang akurat dan sistem pelaporan yang andal. JPPI mengingatkan risiko administratif dan operasional yang muncul ketika basis data penerima tidak mutakhir atau tidak dapat diakses secara publik untuk verifikasi pihak ketiga.
Baca juga: 50 Tiang WiFi Curian, Tiga Karyawan Lubuklinggau Ditangkap Usai Ancaman dan Dugaan Narkoba
Kebutuhan keterbukaan data dan anggaran
JPPI menekankan bahwa membuka akses terhadap data penerima, alokasi anggaran, dan kontrak pengadaan merupakan langkah penting untuk mengurangi celah korupsi. Transparansi publik memungkinkan masyarakat dan pemantau independen melakukan verifikasi silang terhadap klaim pelaksanaan dan penyerapan anggaran.
Selain data dasar, laporan berkala mengenai progres renovasi, bukti serah terima, dan audit penggunaan dana juga menjadi instrumen penting untuk memastikan bahwa tujuan program tercapai sesuai sasaran. Keterbukaan semacam ini dapat memperkecil peluang salah sasaran dan memperkuat akuntabilitas pengelola program.
Peran pengawasan dan akuntabilitas
Pengawasan yang efektif, menurut peringatan JPPI, harus mencakup mekanisme internal maupun eksternal. Pengawasan internal menjadi penting untuk memastikan prosedur administrasi dan keuangan berjalan sesuai aturan, sementara pengawasan eksternal oleh masyarakat sipil dan lembaga independen membantu menangkap potensi penyimpangan yang luput dari catatan internal.
JPPI juga menggarisbawahi perlunya standar pelaporan yang jelas agar hasil pengawasan dapat ditindaklanjuti secara cepat. Ketika laporan masalah tersedia dan dapat diakses publik, tekanan untuk memperbaiki proses menjadi lebih besar dan tindakan korektif dapat diambil lebih awal.
Implikasi bagi kebijakan dan pelaksanaan
Peringatan JPPI ini menempatkan tekanan pada pembuat kebijakan dan pengelola program untuk mengedepankan keterbukaan dan akuntabilitas. Meski tujuan renovasi sekolah umumnya mendapat dukungan publik, jalur pelaksanaan yang tertutup berisiko merusak kepercayaan masyarakat dan efektivitas politik program itu sendiri.
Dalam situasi proyek besar, menjaga transparansi bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif, melainkan menjadi prasyarat untuk menjaga integritas pelaksanaan dan memastikan manfaat sampai kepada sasaran yang paling membutuhkan. JPPI mengingatkan bahwa tanpa langkah-langkah itu, program dapat berubah dari upaya peningkatan fasilitas pendidikan menjadi sumber masalah anggaran dan pemerintahan.
